Petir menyambar-nyambar langit, menandakan hujan akan turun menyengit. Ku menengadah di kolong langit, mengadukan hidup yang terhengit-hengit. Menerawang langit yang semakin melangit, hingga hujan menyingitkannya yang sangit. Kesadaran mulai menunjukkan serengit, memberi angit pada ego pencakar langit. Indahnya angan biru langit, perlahan menunjukkan hitam langit. Membuatku akhirnya untuk berpingit, meredam pikiranku yang mulai lengit. Ku sadari diri ini masih sumengit, saat melihat semunya biru langit. Aku bukanlah bumi langit, di sini hidup masih menjadi lelungit.
This is not about perfect words. It is about honest ones. A reflective writing space for those who think too much, feel deeply, and are learning to make peace with both.