“Empat belas tahun umurnya pada waktu itu. Kulit langsat. Tubuh kecil mungil. Mata agak sipit. Hidung ala kadarnya. Dan jadilah ia kembang kampung nelayan sepenggal pantai keresidenan Jepara Rembang.” Begitulah Pram –sebutan Pramoedya Ananta Toer—memulai novel ini. Bisa saya bayangkan, betapa manisnya tokoh utama itu, semanis namanya. Gadis Pantai –manis ‘kan? Itu nama yang digunakan Pram untuk tokoh utama –yang ternyata adalah neneknya sendiri. Novel ini memang sengaja Pram tulis untuk menebus janjinya kepada sang nenek. “Tahu aku hendak meninggalkannya pergi ke Jakarta, dia datang. Janjiku: Mbah, kalau sudah mampu cari rejeki sendiri nanti kukirimkan sarung untukmu. Aku pergi ke Jakarta. Dia pun pergi, hanya untuk selama-lamanya. Dia, nenek darahku sendiri, pribadi yang kucintai, kukagumi, kubanggakan. Inilah tebusan janjiku. Pada dia yang tak pernah kuketahui namanya. Maka cerita ini kubangun dari berita orang lain, dari yang dapat kusaksikan, kukhayalkan, kutuangkan,” aku ...
This is not about perfect words. It is about honest ones. A reflective writing space for those who think too much, feel deeply, and are learning to make peace with both.