Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Articles

Modern Literature Has Lost Its Courage

Contemporary literature prides itself on being progressive, inclusive, and fearless. Yet paradoxically, it has rarely been more cautious.   In an age that celebrates “speaking truth to power,” much of today’s literary output seems designed to avoid power altogether—or worse, to flatter it. The result is a body of work that is technically refined, morally predictable, and intellectually timid. Literature has not become freer; it has become safer. That safety comes at a cost. From Moral Risk to Moral Compliance Great literature has always been morally dangerous. Not because it glorified harm, but because it refused to obey the ethical consensus of its time. Fyodor Dostoevsky allowed murderers and fanatics to speak with terrifying clarity, without authorial disclaimers. Franz Kafka exposed bureaucratic violence not through slogans but through absurdity so precise it still unsettles readers a century later. George Orwell understood that clear language itself is a political act—and...

Melepas Bayangan

Kemarin aku baru sempat membaca lagi  note Satria yang berjudul, “ Balada Anak Pertama ”. Di note itu, ia bercerita singkat mengenai pengalamannya menjadi anak pertama. Gak tahu kenapa, aku juga ingin bercerita singkat –tapi mungkin sedikit lebih panjang dari cerita Satria—tentang pengalamanku menjadi anak kedua. Dan sebelumnya, jujur, inti ceritaku ini sudah aku buat –kasarannya—beberapa hari sebelum Satria mem- publish baladanya. ***** Siang itu, aku sedang mengedit draf buku milik Semuel Lusi di kafe. Dengan seorang teman (Erwin), sebuah bendel kertas, sebatang pena, dan segelas es chococinno, menemaniku duduk mengedit sambil bercerita tentang cinta Agape-Eros dan ke-zahir-an perempuan pujaan masing-masing. Tiba-tiba, beberapa teman biasa nongkrong datang. Viona, Deva, Alwin, dan Yodie. Kedatangan mereka membuat cerita kami –aku dan Erwin—berhenti, kebetulan juga si Erwin harus pergi menyelesaikan urusan. Awalnya, kedatangan mereka tidak begitu aku hiraukan. A...

Pendidikan Omong Kosong; Pemaksaan Otokritik dan Otodidak

Ini omong kosong. Tidak akan anda temukan kebenaran atau keadilan di sini. Murni omong kosong. Tapi, sekosong-kosongnya omongan saya, lebih omong kosong (orang-orang yang ngomong) kebenaran atau keadilan. Kebenaran atau keadilan di dunia ini memang omong kosong, lebih kosong daripada omong kosong yang saya lakukan sekarang. Namun jangan percaya omong kosong ini, apalagi kebenaran atau keadilan yang sejatinya akan mengosongkan pikiran anda . Dan mengisinya dengan omong kosong tentang imajinasi dunia yang baik. Dunia memang sudah begini adanya. Penuh dengan omong kosong tentang kebaikan, kebenaran, dan keadilan. Mau omong kosong tentang apa lagi? Omong kosong tentang omong kosong? Kalau begitu, saya akan omong-omong tentang yang kosong-kosong. Kosong Adalah Isi Kosong itu ada, ada untuk mengada-ada. Sama halnya seperti pendidikan (formal). Terisi penuh dengan formalitas kosong, lebih kosong daripada yang saya lakukan sekarang ini. Tidak percaya? Tentu anda tidak akan ...

Menggali Pikiran Bawah Sadar Manusia Satyameva

satyameva jayate nān ṛ ta ṁ satyena panthā vitato devayāna ḥ yenākramanty ṛṣ ayo hyāptakāmā yatra tat satyasya parama ṁ nidhānam -Mundanka Upanishad 3.1.6 Mengapa manusia sering mengatasnamakan agama dan kepercayaan di sebagian konfliknya? Kenapa sebagian dari mereka juga siap untuk membunuh orang lain, jika orang lain memiliki kebenaran yang mereka anggap berbeda dengan milik mereka? Terus terang, aku belum menemukan jawaban pastinya . A ku yang juga pernah menjadi bagian dari manusia-manusia itu, akan mencoba menjawabnya dengan menggali pikiran bawah sadarku yang dulu dan sekarang. Tahun 2009, aku pernah menulis sebuah notes di Facebook , judulnya Aku Seorang Satyameva . Dalam notes itu, aku menggunakan istilah Satyameva untuk menunjukkan kepercayaanku yang sudah tidak beragama, namun masih bertuhan. Hingga akhirnya notes itu penuh dengan komentar-komentar perdebatanku dengan beberapa orang yang kurang sepaham –karena dalam notes itu, aku mengkritik agama sec...

Psikologi, Psyche dan Eros

“Psikologi yang merupakan ilmu mempelajari jiwa manusia, sepertinya memerlukan pertanyaan-pertanyaan kritis dan menggugat lewat wacana filsafat.” Begitulah pernyataan seorang Audifax dalam bukunya yang berjudul, Filsafat Psikologi –Audifax sendiri adalah seorang peneliti di SMART Human Research & Psychological Development, Surabaya. Kenapa dia memberikan pernyataan demikian? Apa gunanya pertanyaan-pertanyaan filosofis itu bagi kita – terutama pelajar psikologi? Kenapa harus dengan filsafat? Apakah ada hubungannya dengan psikologi itu sendiri? Apa itu filsafat? Apa itu psikologi? Psikologi dikenal oleh khalayak melalui Fakultas Psikologi yang sudah (dan masih) berdiri sekarang. Psikologi dianggap masih tergolong sebagai ilmu kemarin sore –baru dianggap sebagai salah satu ilmu pengetahuan ketika Wilhem Wundt mendirikan laboratorium psikologi pertama di dunia pada tahun 1879. Meski begitu, sebenarnya psikologi sendiri sudah menjadi banyak pemikiran orang-orang jaman dulu, se...

Manusia Otokritik

"Anda tidak akan bisa bebas memaksa orang lain untuk bisa memahami anda sepenuhnya, karena anda hanya diberikan kebebasan untuk bisa memahami diri anda sendiri dan orang lain, meskipun tidak akan bisa sepenuhnya." Bagiku, semua manusia memiliki kecenderungan untuk anti terhadap kritik. Kenapa? Karena pada dasarnya manusia cenderung mencari yang enak saja. Buat aku pribadi, mengkritik adalah suatu keenakan tersendiri, lebih enak melontarkan kritik daripada menerima kritik. Dan pada akhirnya pula bisa disimpulkan, manusia yang sering mengkritik cenderung anti kritik atau tidak mau menerima kritik. Tapi, bagaimana rasanya jika manusia yang tukang kritik itu, akhirnya juga mengkritik dirinya sendiri? Tetap tidak enak –karena itulah, tulisan ini lama jadinya. Seorang teman pernah mengutip kata-kata Arief Budiman, bahwa kritikan itu konsultasi gratis. Malangnya, kutipan semacam itu selalu aku buat untuk penguatan diri untuk semakin gencar mengkritik sana dan sini. Kenapa aku...

Psikologi Positif, Sebagai Mazhab Baru Psikologi

Salah satu hal yang aku benci dari psikologi –mungkin juga semua ilmu pengetahuan—adalah pengklaiman bahwa mazhab atau aliran tertentulah yang paling benar. Seperti yang beberapa kali aku dengar dan perhatikan dari akademisi psikologi, mereka cenderung untuk mengindentifikasikan diri mereka sendiri sebagai aliran tertentu, contoh, “aku aliran psikoloanalisa, aku tidak cocok dengan aliran behaviorisme atau humanistik.”

Filsafat, Komoditas Ilmu Khusus untuk Akademisi “Pintar”?

Bagi sebagian orang, belajar filsafat itu menyusahkan diri sendiri. Terus terang, aku tidak tahu kenapa sampai bisa menjadi anggapan yang sesu ASU sekali, apakah mungkin karena filsafat itu memang terlalu sulit untuk dipahami atau malah karena filsafat itu sudah dijadikan komoditas (barang dagangan utama) ilmu khusus untuk akademisi –yang menganggap dirinya—pintar yang selalu menggunakan istilah-istilah sulitnya?

Menovelkan Kehidupan, Kematian, dan Eksistensi Manusia

Judul          : Mati, Bertahun yang Lalu Pengarang  : Soe Tjen Marching Penerbit     : Gramedia Halaman    : 172 Halaman Kenapa (sebagian) manusia begitu menginginkan kehidupan, bukan kematian? Apa bagusnya kehidupan dibandingkan kematian? Bukankah akhir dari semua kehidupan ini adalah kematian? Kehidupan itu apa? Kematian itu apa? Dan siapakah itu manusia? “Kebahagiaan adalah arti dan tujuan hidup, ia adalah seluruh cita-cita dan akhir hidup,” kata mbah Aristotéles. Kok bisa? Kebahagiaan itu apa? Arti dan tujuan hidupmu apa? Arti dan tujuan hidupku, aku tidak tahu. Lalu, kamu tahu cita-citamu? Jadi apa? Kalau akhir hidupku ya mati, apa yang bisa aku harapkan selain itu? “Hiduplah sebagaimana kamu selalu berhasrat untuk dapat hidup kembali –itulah tugasmu! Karena mungkin di suatu masa, kamu sungguh-sungguh akan hidup kembali!” nasehat dari opung Nietzs...