Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Poems

When Silence Teaches More Than Noise

Everyone talks about success. Few talk about the cost. The nights you outgrow your old dreams. The mornings that feel heavier than yesterday. The quiet moments where no one is watching— except you. I used to chase noise. Deadlines. Applause. Validation. I thought speed meant progress and movement meant direction. I was wrong. Growth does not announce itself. It whispers. It waits until you are tired enough to finally listen. Some lessons arrive as losses. Some answers come dressed as delays. And some doors stay closed not to punish you, but to protect who you are becoming. There is strength in slowing down. Power in choosing clarity over chaos. Freedom in admitting you don’t need to be everywhere to be enough. You are allowed to change your mind. You are allowed to redefine success. You are allowed to become someone your past self would not recognize. Time is not your enemy. It is your editor— cutting what no longer fits, refining what truly matters. ...

You Are Not Behind — You Are Choosing Differently

  They say you are late. Behind schedule. Outpaced by people who post wins before they understand the cost. But timelines are invented by those afraid of uncertainty. You didn’t fall behind. You stepped off a road that never asked who you wanted to become. Some people move fast because stopping would force them to face themselves. You slowed down because you refused to lie about what success looks like in your own skin. Not everything unfinished is broken. Not every pause is fear. Some delays are decisions made quietly, without witnesses. You are not confused. You are unlearning borrowed ambition. And yes— it looks messy from the outside. Honesty always does before it becomes strength. Let them measure life in milestones. You are measuring it in alignment. And that kind of progress doesn’t trend, doesn’t shout, and doesn’t need permission. It only needs courage.

Iwak Kuthuk

Aku ini manusia terkutuk. Hidup ini adalah kutukanku. Aku benci, aku kutuk. Aku tak benci hidupku.   Hidupku memang untuk mengutuk. Karena hidup pantas dikutuk. Kutuk mengutuk, iwak kuthuk . Hidup tak segurih iwak kuthuk .   Ada yang menasehati, katanya: "Daripada mengutuk, jadilah terang." Terang terus terang gundulnya. Aku kutuk dia jadi terang. Karena tanpa aku kutuk, dirinya hanya jadi iwak kuthuk .

Jeritan Palu dan Arit Kiri; Bersihkan Nama Kami!

Semalam teringat suara kecil menjerit, mengingat palu mereka mengambil darah Tangan kiri mereka membawa arit, arit yang digunakan dengan marah. Bukan dipakai untuk mengarit padi, tapi menuduh kami biang keladi. Tanpa dapat kesempatan membela diri, hak warga negara kamipun dikebiri. Lama setelah peristiwa berdarah itu, kini kami mulai bersuara menuntut. Mencoba melawan doktrin yang membatu, kami enggan kembali bertekuk lutut! Tak peduli nanti berhadapan siapa, yang jelas kami menolak lupa! Akan selalu kami ingat itu, wajah busuk para bedebah itu! Sekarang para bedebah itu bersabda, berjanji bahwa nama kami bersih. Tapi nyatanya tetap membiarkan bernoda, nyatanya tetap ingin kami tersisih. Bukan kami yang melakukan gerakan, karna kami bagian dari kalian. Kami juga bagian bangsa Indonesia, jangan buat kami terbuang sia-sia. Salatiga, 30 September 2014

Yang Ku Sebut "Rumah"

Dalam kebuntuan, aku berharap adanya jalan. Jalan untuk kembali ke tempat yang ku sebut, "rumah". Aku hanya sudah lelah berjalan sendiri, tapi mungkin juga bukan hanya lelah berjalan, melainkan aku lelah untuk takut. Takut akan kesendirian. Aku ingin kembali ke tempat itu, merasakan dekapan hangat ibuku. Aku ingin kembali ke tempat itu, merasakan kecupan manis ibuku. Aku merindukan sosok ibu, di tempat yang pernah ku sebut, "rumah".

Hujan dan Aku

Kami yang tak pernah saling mengharapkan, bertemu dalam sebuah kenang. Merayapi tiap seluk-beluk bayang perempuan, menyesapi aroma gairah tubuhnya. Menyisakan birahi yang tak tergenapi. Menghujani tiap helai rambut yang terurai. Membasahi bajunya yang sehelai, mencetak lekuk dada dan pinggulnya. "Aku ingin mencumbu dirinya, bersama hujan." Di bawah hujan, aku sendiri. Menengadah menatapi senandung mendung, merajut tiap keping tentangnya. Masih tercium manis tubuhnya, ketika hujan telah menggerimis. Hujanku yang tercantik. Salatiga, 12 November 2013 rintik-rintik di sore hari.

Dalam Rinduku

Dalam rinduku malam ini, kubayangkan dirimu yang di sana. Bersamaku lenyapkan dinginnya malam, berdua tak berbusana. Bukan untuk bersetubuh, hanya saling bertatap mata. Ya, kita hanya saling menatap, tanpa kata yang sering mendusta. Dalam rinduku yang tak bertepi, kucoba mengingat-ingat sorot mata itu. Sorot mata bahagia, namun menyiratkan luka karena sesuatu. Dalam rinduku padamu, aku mendoakan kerapuhanmu. Salatiga, 22 September 2013 03.30 WIB

Na

Seperti biasanya, Paulo Coelho selalu dapat membawaku mengarungi semesta yang terlupakan. Dan kali ini, “Ada Sesuatu” –sesuatu yang memiliki banyak nama dalam berbagai kebudayaan—yang menuntunku keluar dari kekosongan. Cuaca pagi itu lumayan cerah dan dingin. Ya, hampir sama dengan pagi-pagi Salatiga sebelumnya. Bedanya, cuaca biasa tak sama dengan suasana hatiku pada biasanya. Kosong. Setelah malam sebelumnya aku berdebat tentang Tuhan dengan seorang perempuan, Na. Jam tangan yang kuletakkan di samping kasur telah menunjukkan angka 5 lebih sedikit. Kupikir masih terlalu pagi untuk memulai hari. Hingga akhirnya aku hanya duduk meringkuk di atas kasur, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, mencoba mengulang dan membayangkan raut wajahnya yang tergambar dari kata-kata perdebatan malam itu. **** “Vannn...Tuhan itu baiiikkk bangeeettt,” katanya melalui SMS, setelah beberapa saat aku membiarkannya untuk mendengar curhatan ibunya yang sedang sakit. “Ceritain dong...

Tuhan, Setan, dan Manusia

Cinta, ia yang memberikan kesempatan pada manusia untuk bisa menjadi dirinya sendiri. Sedangkan benci, ia yang memberikan kesempatan pada manusia untuk bisa menjadi diri lainnya. Manusia, ia yang mewarisi cinta milik Tuhannya dan yang mewarisi benci milik Setannya. Cinta dan benci, Tuhan dan Setan. Mereka bercumbu melahirkan banyak anak manusia. Cinta dan benci, Keduanya membuat manusia menjadi lebih manusiawi. Tak ada manusia yang hanya mencinta atau membenci. Manusia, Ia yang bisa mencintai dan membenci secara bergantian. Berirama. Bahkan beriringan. Manusia, manusia, manusia. Ia bukan Tuhan, ia hanyalah manusia. Ia juga bukan setan, ia hanyalah manusia. Manusia, Tuhan, Setan. Kemanusiaan, Ketuhanan, Kesetanan. Memanusiakan manusia, Tuhan, dan Setan. Memanusiakan manusia, Karena manusia tetaplah manusia. Cintai dan benci manusia secukupnya. Memanusiakan Tuhan dan Setan, karena dengan begitu, manusia akan memahami hakekatnya sebagai manusia. Ant...

(Salah Satu) Cara Mencintaimu

Aku suka rambut hitammu, ketika panjang sebahu. Aku suka bibir merahmu,ketika terseyum untukku. Aku suka mata cerahmu, ketika memandang hangat diriku. Aku suka caramu, ketika menunjukkan sikap manja dan tegarmu padaku. Aku suka kata-katamu. ketika berbicara kepadaku. Aku suka semua tentangmu, ketika seperti apa yang aku harapkan. Tapi, ketika rambutmu tak panjang sebahu, ketika bibirmu tak lagi (merah dan) tersenyum untukku, ketika matamu tak lagi (cerahmu dan) memandangku dengan hangat, ketika dirimu tak lagi menunjukkan manja ataupun tegar (tapi ketakpedulianmu) padaku, dan ketika semua tentangmu tak lagi seperti yang aku harapkan, aku tetap mencintaimu. Untuk sekarang, bahkan sampai dirimu bersama pria lain, ataupun aku bersama perempuan selain dirimu (mungkin). Aku tetap mencintaimu. Bukankah cinta sejati itu tak bersyarat? Mencintaimu apa adanya dirimu. Inilah salah satu (dari seribu) caraku mencintaimu. 23 Desember 2012, Salatiga ...

Kupu-Kupu Merah

Merah sayapmu, menerbangkanmu dengan angkuh. Angkuh sayapmu, menerbangkanmu dengan anggun. Anggun sayapmu, menerbangkanmu tak menentu. Kau, kupu-kupu merah yang terbang tak menentu. Terbang dari taman ke taman, dari hati ke hati yang sedang berbunga-bunga. Kau, kupu-kupu merah yang telah mengisap sebagian sari hatiku. Hanya sebagian, hanya sampai setengah mati. Kenapa tak kau hisap sampai aku mati? Adakah kau akan hinggap dan mengisapku lagi? Akan aku sediakan sari yang lebih banyak untukmu. Datanglah ke mari. Dan hisap aku sampai mati, kali ini.

Siung

Dapat kuhirup bau ombak yang menderu karang. Mendengar hempasan angin lembut di mukaku. Aku bebas! Bebas bersatu dengan air laut dan pasir putih. Berjalan menyusuri pantai Siung tanpa jejak. Kudaki tebing-tebing hingga atas. Aku berdiri, merentangkan tangan. Aku melihat laut selatan yang begitu luas dan biru. Berteriak sepuas-puasnya, sambil kulihat ombak yang menabrakan diri ke karang besar. Entah kudengar bisikan lembut menggoda, "Terjunlah, terjunlah, hempaskan tubuhmu seperti ombak itu" Terdengar menggoda, namun aku tolak. Aku tidak berani, aku takut! Kududuk di atas tebing, menunggu matahari membakar kepalaku. Kulihat ke bawah, ada sekolompok anak muda yang bergembira. "Ah, bahagia sekali mereka? Aku juga ingin seperti itu," kataku dalam hati. Semuanya tertawa, kejar-kejaran dan mencari ikan-ikan di karang. Semakin iri aku melihatnya, semakin aku putus asa. Kubaringkan tubuh, kulihat langit yang cerah. Sempat aku tertidur dalam pelukan alam, nyaman dan damai, a...

Jalanan Salatiga

Tiap malam menjelang subuh, tiap aku memikirkan gadis manisku, menyusuri jejak hitam yang aku buat, hanya menemukan bayangan dalam kabut. Berjalan di tengah-tengah pekatnya kegelapan, melarut dalam kesendirian, dalam sebuah harmoni malam, sedikit remang, sedikit dingin, sedikit sepi, dan sedikit amarah. Berteman dengan jalangnya jalanan, menikmati cumbuan angin malam yang dingin. Kurasakan hangat sebuah kecupan birahi semu, bergairah, sambil menangis, tertawa, aku bertanya, "Apa yang sedang aku lakukan? Bukankah ini gila?" Semua perasaan bercampur aduk menjadi satu, yaitu aku. Di jalanan inilah aku meletakkan jejak bayangku, merayu cantiknya bintang dan bulan purnama. Ya, mereka cocok menjadi teman kencanku semalam. Kugandeng mereka menuju puncak bukit jalanan ini, menuju puncak kenikmatan malam kota Salatiga. 3 September 2010, Surabaya

Di Suatu Masa

Terlelap dalam alunan simfoni tak bersuara, mengosongkan harapan ilusi malam. Bagai aliran air yang tak bermuara, kini telah menghilang oleh amukan alam. Seperti permainan yang mencandukan, terbuai dalam topeng keindahan. Kini hanya dapat merindukan sebuah ungkapan akan kejujuran. Menangis tersenyum kepada semesta, bertanya akan sebuah pertanyaan. Tak dapat terlihat oleh mata, sesuatu yang disebut jawaban. Tak tahu arah perjalanan, hanya dapat terus berjalan dan berjalan. Menyusuri waktu dalam kegelapan dan tersesat dalam perasaan. Hanya terdengar suara sunyi, memberi sebuah kepercayaan akan harapan. Sebuah harapan yang bersembunyi dalam bayang-bayang kehidupan. Salatiga, 29 Mei 2010