Seperti biasanya, Paulo Coelho selalu dapat membawaku mengarungi semesta yang terlupakan. Dan kali ini, “Ada Sesuatu” –sesuatu yang memiliki banyak nama dalam berbagai kebudayaan—yang menuntunku keluar dari kekosongan. Cuaca pagi itu lumayan cerah dan dingin. Ya, hampir sama dengan pagi-pagi Salatiga sebelumnya. Bedanya, cuaca biasa tak sama dengan suasana hatiku pada biasanya. Kosong. Setelah malam sebelumnya aku berdebat tentang Tuhan dengan seorang perempuan, Na. Jam tangan yang kuletakkan di samping kasur telah menunjukkan angka 5 lebih sedikit. Kupikir masih terlalu pagi untuk memulai hari. Hingga akhirnya aku hanya duduk meringkuk di atas kasur, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, mencoba mengulang dan membayangkan raut wajahnya yang tergambar dari kata-kata perdebatan malam itu. **** “Vannn...Tuhan itu baiiikkk bangeeettt,” katanya melalui SMS, setelah beberapa saat aku membiarkannya untuk mendengar curhatan ibunya yang sedang sakit. “Ceritain dong...
This is not about perfect words. It is about honest ones. A reflective writing space for those who think too much, feel deeply, and are learning to make peace with both.