Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Storiette

Na

Seperti biasanya, Paulo Coelho selalu dapat membawaku mengarungi semesta yang terlupakan. Dan kali ini, “Ada Sesuatu” –sesuatu yang memiliki banyak nama dalam berbagai kebudayaan—yang menuntunku keluar dari kekosongan. Cuaca pagi itu lumayan cerah dan dingin. Ya, hampir sama dengan pagi-pagi Salatiga sebelumnya. Bedanya, cuaca biasa tak sama dengan suasana hatiku pada biasanya. Kosong. Setelah malam sebelumnya aku berdebat tentang Tuhan dengan seorang perempuan, Na. Jam tangan yang kuletakkan di samping kasur telah menunjukkan angka 5 lebih sedikit. Kupikir masih terlalu pagi untuk memulai hari. Hingga akhirnya aku hanya duduk meringkuk di atas kasur, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, mencoba mengulang dan membayangkan raut wajahnya yang tergambar dari kata-kata perdebatan malam itu. **** “Vannn...Tuhan itu baiiikkk bangeeettt,” katanya melalui SMS, setelah beberapa saat aku membiarkannya untuk mendengar curhatan ibunya yang sedang sakit. “Ceritain dong...

Melepas Bayangan

Kemarin aku baru sempat membaca lagi  note Satria yang berjudul, “ Balada Anak Pertama ”. Di note itu, ia bercerita singkat mengenai pengalamannya menjadi anak pertama. Gak tahu kenapa, aku juga ingin bercerita singkat –tapi mungkin sedikit lebih panjang dari cerita Satria—tentang pengalamanku menjadi anak kedua. Dan sebelumnya, jujur, inti ceritaku ini sudah aku buat –kasarannya—beberapa hari sebelum Satria mem- publish baladanya. ***** Siang itu, aku sedang mengedit draf buku milik Semuel Lusi di kafe. Dengan seorang teman (Erwin), sebuah bendel kertas, sebatang pena, dan segelas es chococinno, menemaniku duduk mengedit sambil bercerita tentang cinta Agape-Eros dan ke-zahir-an perempuan pujaan masing-masing. Tiba-tiba, beberapa teman biasa nongkrong datang. Viona, Deva, Alwin, dan Yodie. Kedatangan mereka membuat cerita kami –aku dan Erwin—berhenti, kebetulan juga si Erwin harus pergi menyelesaikan urusan. Awalnya, kedatangan mereka tidak begitu aku hiraukan. A...

ARA

Memang sebuah kebetulan jika aku menemuimu malam ini. Sama seperti aku menemui dirinya dulu. Dulu sekali. Apakah dirimu percaya akan sebuah kebetulan? “Kebetulan itu gak ada. Keajaibanlah yang ada,” katanya mendebat pernyataanku. “Bukankah keajaiban itu juga sama dengan kebetulan? Ajaib memang kalau kamu katakan kebetulan itu tak ada, sedangkan kesalahan itu ada. Hahaha...,” ejekku sambil tertawa puas. “Jelas berbedalah. Tuhan tak menciptakan kebetulan, semuanya sudah diatur. Dan semua keteraturan yang tak bisa manusia perkirakan, itulah keajaiban. Jadi, ini bukan masalah betul atau salah!” bantahnya sedikit marah. “Hahaha...,” tawaku tambah puas. “Kenapa kamu tertawa? Apa yang lucu? Oh iya, aku lupa kalau kamu gak percaya Tuhan,” tanyanya sambil menggerutu. “Hahaha...bukan begitu. Aku hanya suka lihat caramu marah padaku. Kamu mengingatkan aku pada ibuku,” kataku tersenyum. “Oh, jadi kamu sengaja buat aku marah? Puas sekarang?”  gerutunya semakin tak ...