Skip to main content

You Are Not Behind — You Are Choosing Differently

 

A woman standing on a cliff at sunset overlooking a city, symbolizing choosing a different path, self-alignment, and redefining success.

They say you are late.
Behind schedule.
Outpaced by people who post wins
before they understand the cost.

But timelines are invented
by those afraid of uncertainty.

You didn’t fall behind.
You stepped off a road
that never asked
who you wanted to become.

Some people move fast
because stopping would force them
to face themselves.

You slowed down
because you refused to lie
about what success looks like
in your own skin.

Not everything unfinished is broken.
Not every pause is fear.
Some delays are decisions
made quietly,
without witnesses.

You are not confused.
You are unlearning borrowed ambition.

And yes—
it looks messy from the outside.
Honesty always does
before it becomes strength.

Let them measure life in milestones.
You are measuring it in alignment.

And that kind of progress
doesn’t trend,
doesn’t shout,
and doesn’t need permission.

It only needs courage.

Popular posts from this blog

Pendidikan Anarkisme; Menanggapi Pendidikan Demokratis Radikal Ben Laksana

Setelah membaca tulisan Ben Laksana mengenai pendidikan demokratis di Indoprogress , saya ingin menanggapinya dengan kedangkalan berpikir saya mengenai pendidikan. Namun sebelum menanggapi tulisan tersebut, saya ingin mengeluarkan uneg-uneg sebagai prolog tulisan ini. Bila memang benar demokrasi merupakan sistem bernegara yang paling ideal, mengapa justru permasalahan negara-negara demokrasi semakin rumit setiap harinya? Apakah kegagalan negara-negara tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintahnya menerapkan demokrasi? atau apakah demokrasi hanyalah sebuah omong kosong penguasa untuk melegitimasi kekuasaannya secara terselubung (dengan adanya pemilu, penguasa akan selalu mengklaim kekuasaannya berasal dari rakyat)? Buat saya, demokrasi memang hanyalah sebuah omong kosong, tidak realistis untuk diperjuangkan, bukan soal utopis atau tidaknya, tapi lebih pada kesesatan logika berpikirnya. Secara etimologi dan terminologi, bukankah demokrasi berarti pemerintahan rakyat? Namun secara...

Psikologi, Filsafat Kemanusiaan

Beberapa bulan yang lalu, seorang dosen pernah berkata dalam kelas, "Bahasa tubuh manusia itu bisa dibaca, apakah orang itu sedang murung atau senang? Tiap tingkah laku manusia dapat dipelajari kecenderungannya, bila orang tersebut suka diam dan menyendiri, berarti orang tersebut senang berpikir atau larut dalam dunianya sendiri." Dan kebetulan saya yang sedang diam dan menyendiri, merasa bahwa dosen ini sedang menyindir saya. "Nah, orang yang suka larut dalam dunianya tidak cocok sebagai psikolog, ia cocoknya menjadi filsuf, karena seorang psikolog tidak bisa hanya larut dalam dirinya sendiri, ia harus bisa berkomunikasi dengan orang lain, mencoba memahami orang lain. Sehingga bila kalian tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain, lebih baik tidak perlu belajar psikologi, tapi filsafat saja." Lanjutnya. Saya yang saat itu memang sedang tidak  mood   untuk mengikuti kuliah, merasa sedikit tersinggung, saya (merasa) tahu kalau ia memang sedang menyindir sa...