Skip to main content

Filsafat, Komoditas Ilmu Khusus untuk Akademisi “Pintar”?

Bagi sebagian orang, belajar filsafat itu menyusahkan diri sendiri. Terus terang, aku tidak tahu kenapa sampai bisa menjadi anggapan yang sesuASU sekali, apakah mungkin karena filsafat itu memang terlalu sulit untuk dipahami atau malah karena filsafat itu sudah dijadikan komoditas (barang dagangan utama) ilmu khusus untuk akademisi –yang menganggap dirinya—pintar yang selalu menggunakan istilah-istilah sulitnya?


Pertanyaanku ini memang timbul dari kejengkelanku melihat dan mengamati para akademisi yang banyak berbicara besar dan tinggi mengenai filsafat. Memangnya filsafat itu apa? Sehingga, ia harus selalu menggunakan istilah-istilah “kampungan”, macam otoritatif; praxis; dialektika; materialisme; dan masih banyak lagi tetek-bengeknya yang “kampungan”. Apakah harus? Kenapa? Bagaimana jika berfilsafat tidak menggunakan istilah-istilah “kampungan” itu? Aku tidak tahu, tolong kasih tahu.

“Banyak-banyaklah membaca,” jawab seorang (yang menyebut dirinya sebagai) “amatiran” kepada temanku yang bertanya arti istilah-istilah “kampungan” itu di sebuah media.

Sungguh, aku tambah jengkel membaca jawaban dari “amatiran” itu. Memang tidak salah jika menyarankan orang lain untuk membaca buku banyak-banyak, tapi akan salah jika itu digunakan sebagai jawaban untuk sebuah pertanyaan dasar. Kenapa itu salah? Bukankah salah-benar itu relatif –tidak ada yang mutlak benar ataupun salah? Justru jika mau dikaitkan dengan relativitas (ketidakmutlakan), aku bebas menyatakan mana yang benar dan salah menurutku, tapi tetap menggunakan alasan, yang entah bagi orang lain bisa tidak masuk akal. Kita boleh berdebat mengenai itu nanti. Jadi, apa alasanku menyalahkan itu?

Kesalahan pertama, antara pertanyaan dengan jawaban sangat timpang. Jawaban dari “amatiran” ini jelas tidak menjawab pertanyaan temanku. Aku lebih melihatnya sebagai perendahan orang lain, dengan kata lain, “anda harus banyak baca buku dulu, baru saya mau berdiskusi atau berdebat dengan anda.” Memangnya jika penanya sudah baca banyak buku, ia baru bisa diajak diskusi filsafat? Jika iya, berarti orang-orang yang tidak baca banyak buku dan yang tidak pernah baca sama sekali, ia tidak bisa berdiskusi dan berdebat mengenai filsafat. Atau mungkin tidak perlu sampai tahap diskusi dan berdebat mengenai filsafat, tapi apakah orang itu tidak bisa berfilsafat? Memangnya filsafat itu apa?

Yang kedua, penanya (temanku) dan penjawab sama-sama seorang akademisi yang sebaiknya bisa tahu kapan harus berdebat dan kapan harus berdiskusi. Diskusi berbeda dengan debat. Diskusi bukan untuk menunjukkan argumen mana yang kuat secara logika, bukan pula untuk menunjukkan siapa yang paling benar, apalagi untuk menjatuhkan lawan bicara yang sedang bertanya. Tujuan dari diskusi adalah untuk saling belajar, saling bertukar informasi, dan tidak menutup kemungkinan juga untuk saling mencapai kata sepakat –bukan sepakat untuk tidak sepakat. Bagiku, perdebatan diperlukan ketika pemahaman kedua orang itu berbeda, bukan ketika yang satunya memang tidak tahu. Yah, mungkin saja penanya juga hanya mencobai atau ingin tahu dulu pemahaman penjawab, tapi mungkin juga tidak!

Selanjutnya, aku jadi teringat dengan penggalan kalimat di salah satu novelnya Pramoedya Ananta Toer yang tulisannya seperti ini, “Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu.“ Bagaimana filsafat mau ditularkan kepada orang banyak, ketika manusia-manusia (terpelajar) yang membahasnya selalu menggunakan bahasa-bahasa yang sulit dimengerti orang banyak? Apa susahnya membahasakan istilah-istilah itu dengan bahasa yang mudah dimengerti, bahkan oleh seorang yang tidak pernah baca buku? Atau bagaimana “’membuat filsafat itu sendiri turun dari menara gadingnya untuk melakukan pencerahan bagi kehidupan manusia dan semakin membuat manusia mencintai kebijaksanaan,’ sepenggal kalimat dari Fransisco Budi Hardiman di sebuah kata pengantar buku filsafat populer”?

Bagiku itu semua tidak akan bisa, jika terus menggunakan istilah “kampungan” macam itu –sumpah, jika penggunaan istilah-istilah itu tidak dibarengi dengan arti gampangannya, buatku itu “kampungan”, yah hampir sama dengan istilah-istilah anak alay yang sulit aku pahami, bahkan aku baca!

Dan kalau hal ini terjadi terus, maka aku aminkan saja anggapan sesuASU di atas, dan filsafat tidak akan pernah bisa mencerahkan kehidupan manusia, karena sudah menjadi komoditas ilmu khusus untuk akademisi (yang menganggap dirinya) pintar –sekaligus “amatiran”.

                                                                                                                                                                   
“Belajar filsafat membuat kemampuan reflektif kita senantiasa berdenyut. Segala hal akan digugat dan digugat ulang oleh refleksi kita sendiri. Maka bahkan pendapat seorang pemikir besar pun, akan selalu digugat dan diajukan tesis baru. Barangkali akan lebih nyaman belajar ideologi, cukuplah kita menyediakan telinga dan kepala untuk dicekokin apa saja. Sayangnya di banyak dunia akademik, kebebasan berpikir tidak dikembangkan. Mahasiswa bersikap pasif mendengar apa kata profesornya, menerima semua yang diajarkannya dan mengimaninya dengan kuat tanpa sikap kritis dan bertanya. Tafsiran profesor atas ilmu diperlakukan sebagai ideologi, sehingga ditelan begitu saja, suatu sikap yang bertentangan dengan sikap ilmiah, karena ilmu mestinya terbuka untuk selalu digugat dan dibaharui demi penyempurnaan, bukan didogmatisasi. pendapat/tafsiran pemikir/profesor yang diamini begitu saja adalah sikap mendogmatisasi dan mematikan pengetahuan itu sendiri. Inilah tanda matinya episteme (pengetahuan). Semoga tidak! –Gusti Menoh.

Popular posts from this blog

Pendidikan Anarkisme; Menanggapi Pendidikan Demokratis Radikal Ben Laksana

Setelah membaca tulisan Ben Laksana mengenai pendidikan demokratis di Indoprogress , saya ingin menanggapinya dengan kedangkalan berpikir saya mengenai pendidikan. Namun sebelum menanggapi tulisan tersebut, saya ingin mengeluarkan uneg-uneg sebagai prolog tulisan ini. Bila memang benar demokrasi merupakan sistem bernegara yang paling ideal, mengapa justru permasalahan negara-negara demokrasi semakin rumit setiap harinya? Apakah kegagalan negara-negara tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintahnya menerapkan demokrasi? atau apakah demokrasi hanyalah sebuah omong kosong penguasa untuk melegitimasi kekuasaannya secara terselubung (dengan adanya pemilu, penguasa akan selalu mengklaim kekuasaannya berasal dari rakyat)? Buat saya, demokrasi memang hanyalah sebuah omong kosong, tidak realistis untuk diperjuangkan, bukan soal utopis atau tidaknya, tapi lebih pada kesesatan logika berpikirnya. Secara etimologi dan terminologi, bukankah demokrasi berarti pemerintahan rakyat? Namun secara...

Psikologi, Filsafat Kemanusiaan

Beberapa bulan yang lalu, seorang dosen pernah berkata dalam kelas, "Bahasa tubuh manusia itu bisa dibaca, apakah orang itu sedang murung atau senang? Tiap tingkah laku manusia dapat dipelajari kecenderungannya, bila orang tersebut suka diam dan menyendiri, berarti orang tersebut senang berpikir atau larut dalam dunianya sendiri." Dan kebetulan saya yang sedang diam dan menyendiri, merasa bahwa dosen ini sedang menyindir saya. "Nah, orang yang suka larut dalam dunianya tidak cocok sebagai psikolog, ia cocoknya menjadi filsuf, karena seorang psikolog tidak bisa hanya larut dalam dirinya sendiri, ia harus bisa berkomunikasi dengan orang lain, mencoba memahami orang lain. Sehingga bila kalian tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain, lebih baik tidak perlu belajar psikologi, tapi filsafat saja." Lanjutnya. Saya yang saat itu memang sedang tidak  mood   untuk mengikuti kuliah, merasa sedikit tersinggung, saya (merasa) tahu kalau ia memang sedang menyindir sa...

You Are Not Behind — You Are Choosing Differently

  They say you are late. Behind schedule. Outpaced by people who post wins before they understand the cost. But timelines are invented by those afraid of uncertainty. You didn’t fall behind. You stepped off a road that never asked who you wanted to become. Some people move fast because stopping would force them to face themselves. You slowed down because you refused to lie about what success looks like in your own skin. Not everything unfinished is broken. Not every pause is fear. Some delays are decisions made quietly, without witnesses. You are not confused. You are unlearning borrowed ambition. And yes— it looks messy from the outside. Honesty always does before it becomes strength. Let them measure life in milestones. You are measuring it in alignment. And that kind of progress doesn’t trend, doesn’t shout, and doesn’t need permission. It only needs courage.