Aku percaya adanya Tuhan, tapi aku tidak percaya adanya kehendak bebas. Pertemuanku denganmu bukanlah kehendak bebasku! Perasaanku terhadapmu bukanlah kehendak bebasku! Bangsat! Kenapa aku masih menangisi kepergianmu?! Jika memang pertemuanku hanya untuk menjawab mimpiku 8 tahun yang lalu, aku lebih memilih untuk tidak mengingatnya sama sekali! Karena untuk saat ini hatiku masih berhenti untuk mencintaimu, dan itu bukanlah kehendak bebasku!
This is not about perfect words. It is about honest ones. A reflective writing space for those who think too much, feel deeply, and are learning to make peace with both.