Thursday, May 24, 2012

Filsafat, Komoditas Ilmu Khusus untuk Akademisi “Pintar”?

Bagi sebagian orang, belajar filsafat itu menyusahkan diri sendiri. Terus terang, aku tidak tahu kenapa sampai bisa menjadi anggapan yang sesuASU sekali, apakah mungkin karena filsafat itu memang terlalu sulit untuk dipahami atau malah karena filsafat itu sudah dijadikan komoditas (barang dagangan utama) ilmu khusus untuk akademisi –yang menganggap dirinya—pintar yang selalu menggunakan istilah-istilah sulitnya?


Pertanyaanku ini memang timbul dari kejengkelanku melihat dan mengamati para akademisi yang banyak berbicara besar dan tinggi mengenai filsafat. Memangnya filsafat itu apa? Sehingga, ia harus selalu menggunakan istilah-istilah “kampungan”, macam otoritatif; praxis; dialektika; materialisme; dan masih banyak lagi tetek-bengeknya yang “kampungan”. Apakah harus? Kenapa? Bagaimana jika berfilsafat tidak menggunakan istilah-istilah “kampungan” itu? Aku tidak tahu, tolong kasih tahu.

“Banyak-banyaklah membaca,” jawab seorang (yang menyebut dirinya sebagai) “amatiran” kepada temanku yang bertanya arti istilah-istilah “kampungan” itu di sebuah media.

Sungguh, aku tambah jengkel membaca jawaban dari “amatiran” itu. Memang tidak salah jika menyarankan orang lain untuk membaca buku banyak-banyak, tapi akan salah jika itu digunakan sebagai jawaban untuk sebuah pertanyaan dasar. Kenapa itu salah? Bukankah salah-benar itu relatif –tidak ada yang mutlak benar ataupun salah? Justru jika mau dikaitkan dengan relativitas (ketidakmutlakan), aku bebas menyatakan mana yang benar dan salah menurutku, tapi tetap menggunakan alasan, yang entah bagi orang lain bisa tidak masuk akal. Kita boleh berdebat mengenai itu nanti. Jadi, apa alasanku menyalahkan itu?

Kesalahan pertama, antara pertanyaan dengan jawaban sangat timpang. Jawaban dari “amatiran” ini jelas tidak menjawab pertanyaan temanku. Aku lebih melihatnya sebagai perendahan orang lain, dengan kata lain, “anda harus banyak baca buku dulu, baru saya mau berdiskusi atau berdebat dengan anda.” Memangnya jika penanya sudah baca banyak buku, ia baru bisa diajak diskusi filsafat? Jika iya, berarti orang-orang yang tidak baca banyak buku dan yang tidak pernah baca sama sekali, ia tidak bisa berdiskusi dan berdebat mengenai filsafat. Atau mungkin tidak perlu sampai tahap diskusi dan berdebat mengenai filsafat, tapi apakah orang itu tidak bisa berfilsafat? Memangnya filsafat itu apa?

Yang kedua, penanya (temanku) dan penjawab sama-sama seorang akademisi yang sebaiknya bisa tahu kapan harus berdebat dan kapan harus berdiskusi. Diskusi berbeda dengan debat. Diskusi bukan untuk menunjukkan argumen mana yang kuat secara logika, bukan pula untuk menunjukkan siapa yang paling benar, apalagi untuk menjatuhkan lawan bicara yang sedang bertanya. Tujuan dari diskusi adalah untuk saling belajar, saling bertukar informasi, dan tidak menutup kemungkinan juga untuk saling mencapai kata sepakat –bukan sepakat untuk tidak sepakat. Bagiku, perdebatan diperlukan ketika pemahaman kedua orang itu berbeda, bukan ketika yang satunya memang tidak tahu. Yah, mungkin saja penanya juga hanya mencobai atau ingin tahu dulu pemahaman penjawab, tapi mungkin juga tidak!

Selanjutnya, aku jadi teringat dengan penggalan kalimat di salah satu novelnya Pramoedya Ananta Toer yang tulisannya seperti ini, “Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu.“ Bagaimana filsafat mau ditularkan kepada orang banyak, ketika manusia-manusia (terpelajar) yang membahasnya selalu menggunakan bahasa-bahasa yang sulit dimengerti orang banyak? Apa susahnya membahasakan istilah-istilah itu dengan bahasa yang mudah dimengerti, bahkan oleh seorang yang tidak pernah baca buku? Atau bagaimana “’membuat filsafat itu sendiri turun dari menara gadingnya untuk melakukan pencerahan bagi kehidupan manusia dan semakin membuat manusia mencintai kebijaksanaan,’ sepenggal kalimat dari Fransisco Budi Hardiman di sebuah kata pengantar buku filsafat populer”?

Bagiku itu semua tidak akan bisa, jika terus menggunakan istilah “kampungan” macam itu –sumpah, jika penggunaan istilah-istilah itu tidak dibarengi dengan arti gampangannya, buatku itu “kampungan”, yah hampir sama dengan istilah-istilah anak alay yang sulit aku pahami, bahkan aku baca!

Dan kalau hal ini terjadi terus, maka aku aminkan saja anggapan sesuASU di atas, dan filsafat tidak akan pernah bisa mencerahkan kehidupan manusia, karena sudah menjadi komoditas ilmu khusus untuk akademisi (yang menganggap dirinya) pintar –sekaligus “amatiran”.

                                                                                                                                                                   
“Belajar filsafat membuat kemampuan reflektif kita senantiasa berdenyut. Segala hal akan digugat dan digugat ulang oleh refleksi kita sendiri. Maka bahkan pendapat seorang pemikir besar pun, akan selalu digugat dan diajukan tesis baru. Barangkali akan lebih nyaman belajar ideologi, cukuplah kita menyediakan telinga dan kepala untuk dicekokin apa saja. Sayangnya di banyak dunia akademik, kebebasan berpikir tidak dikembangkan. Mahasiswa bersikap pasif mendengar apa kata profesornya, menerima semua yang diajarkannya dan mengimaninya dengan kuat tanpa sikap kritis dan bertanya. Tafsiran profesor atas ilmu diperlakukan sebagai ideologi, sehingga ditelan begitu saja, suatu sikap yang bertentangan dengan sikap ilmiah, karena ilmu mestinya terbuka untuk selalu digugat dan dibaharui demi penyempurnaan, bukan didogmatisasi. pendapat/tafsiran pemikir/profesor yang diamini begitu saja adalah sikap mendogmatisasi dan mematikan pengetahuan itu sendiri. Inilah tanda matinya episteme (pengetahuan). Semoga tidak! –Gusti Menoh.
 
© Copyright 2035 Evan Adiananta
Theme by Yusuf Fikri