Skip to main content

Perihal Apresiasi

Aku tahu belum banyak yang bisa kulakukan
Melihat diriku saat inipun rasanya tak sudi
Bukan berarti aku sakit hati dengan sikapmu
Ulu hati terasa semakin menyesak
Raut wajahmu tak lagi bersinar di depanku
Ambrukan semangat dan giat usahaku
Ungkapan ini hanya meminta sedikit apresiasi
Lebih baikkah bila ku undur diri?

Popular posts from this blog

Pendidikan Anarkisme; Menanggapi Pendidikan Demokratis Radikal Ben Laksana

Setelah membaca tulisan Ben Laksana mengenai pendidikan demokratis di Indoprogress , saya ingin menanggapinya dengan kedangkalan berpikir saya mengenai pendidikan. Namun sebelum menanggapi tulisan tersebut, saya ingin mengeluarkan uneg-uneg sebagai prolog tulisan ini. Bila memang benar demokrasi merupakan sistem bernegara yang paling ideal, mengapa justru permasalahan negara-negara demokrasi semakin rumit setiap harinya? Apakah kegagalan negara-negara tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintahnya menerapkan demokrasi? atau apakah demokrasi hanyalah sebuah omong kosong penguasa untuk melegitimasi kekuasaannya secara terselubung (dengan adanya pemilu, penguasa akan selalu mengklaim kekuasaannya berasal dari rakyat)? Buat saya, demokrasi memang hanyalah sebuah omong kosong, tidak realistis untuk diperjuangkan, bukan soal utopis atau tidaknya, tapi lebih pada kesesatan logika berpikirnya. Secara etimologi dan terminologi, bukankah demokrasi berarti pemerintahan rakyat? Namun secara...

Pelampiasan

Ingin kupeluk erat dirimu sebagai pelampiasan, atas rasa rindu yang telah membendung lama. Ingin kucium bibirmu sebagai pelampiasan, atas rasa nafsu yang telah memuncak lama. Ingin kujadikan dirimu sebagai pelampiasan, atas rasa cinta pada sebagian diriku yang ada padamu.

Musafir Kafir

Kata mereka, Tuhan tak boleh dipertanyakan. Lalu, kenapa Tuhan tak langsung kasih mati aku? Kata mereka, Tuhan adalah keabsolutan. Lalu, kenapa Tuhan sering memberiku kemungkinan? Mereka selalu bilang aku kafir, katanya, mempertanyakan berarti tak percaya. Mereka selalu bilang tak seagama itu kafir, katanya, agama mereka yang paling benar. Akulah sang musafir kafir, yang pikirannya selalu bepergian mempertanyakan Tuhan. Akulah sang musafir kafir, yang bangga menggunakan otak dari Tuhannya hingga dipanggil kafir.