Skip to main content

Dari Scientiarum Menuju Psychophrenia

Dalam kehidupan bersosialisasi, perbedaan pendapat dan penilaian itu hal yang biasa dan sering terjadi. Dari perbedaan macam itu, maka timbullah sebuah kritikan, cemoohan, bahkan tertawaan, dan tidak sedikit yang bisa tersinggung karenanya –aku termasuk salah satunya.

Barusan aku sedikit tersinggung karena mendapatkan pertanyaan dari seorang kawan jurnalis di kampus, yang menurutku itu bukan sebuah pertanyaan biasa, tapi itu suatu kritikan mencemooh yang terbungkus dalam kalimat tertawaan. Untung dia melakukannya itu ke aku, entah bagaimana kalau dia melakukannya ke orang yang jarang mendapatkan hal macam itu? –mungkin bisa tiga kali lipat tersinggungnya.

Entah dengan maksud atau pemikiran seperti apa, dia bertanya mengomentari berita pertama di blog Psychophrenia –KBM Jurnalistik Fakultas Psikologi yang aku pimpin saat ini—dengan pertanyaan macam ini; “Iku berita po tajuk rencana, ndes? Hahaha..”

Aku yang sedikit binggung dengan pertanyaan itu, aku langsung balik bertanya, “Tajuk rencana seko endi’e?”

“Ky neng kompas. Hahaha.”

“Maksud’e?”

“Iku liputan to? Ada wawancara po ra to?”

“Berita iku opo? Tajuk rencana iku opo? Lha mbok pikir plagiat tha cuk? Opo kudu ono?”

“Golek’o dhewe to ya.”

“Lho? Iki aku takok dalam pikiranmu iku berita iku koyok opo, tajuk rencana iku opo, kok? Mbok pikir aku ora duwe pikiran sing jelas mengenai dua hal itu apa? Opo jok2 koen sing gak eruh?”

“Sori jek, duduk tajuk rencana dink.. Haha.. Ky model beritane buletin senin.”

“Lha terus kenapa? Apa yang membuat itu lucu? Apakah harus model yang sangar, ketika semuanya masih anak baru? Semua ada tahapannya sendiri dalam belajar. Gak perlu membandingkannya dengan SA. Belum saatnya. Yang ada nanti hanya kekecewaan.”

“Jadi begitu.. Okey..”

Begitulah pembahasan kami melalui SMS. Sebenarnya, aku sudah tidak ada rasa tersinggung lagi, rasa tersinggung itu berubah menjadi rasa gelisah –bukan geli-geli basah. Gelisah karena cara berpikir kawanku, Erwin atau eL, bahwa semuanya digeneralisasi dengan standarnya –pedahal banyak hal yang tidak bisa digeneralisasikan sesuai standarnya. Kemudian aku gelisah akan kelanjutan dari SA atau Scientiarum itu sendiri –bisa jadi “ramalan” Saam Fredy kapan waktu yang lalu tentang SA akan terjadi. Hahaha

Scientiarum adalah tempat belajar pertamaku sejak kuliah di UKSW. Di tempat itulah aku pertama kalinya merasa nyaman untuk belajar banyak hal, ketimbang belajar di ruang persegi panjang dengan “Tuhan” di depan yang berceloteh tak jelas, mendogma para manusia seperti bonekanya. Inilah tempat pertemuanku dengan jurnalisme, pers mahasiswa, orang-orang yang beridealisme “tinggi”. Dan perlu aku akui, meski secara struktural aku bukan anggotanya lagi, tapi aku masih memiliki “jiwa” di sana. Karena itulah aku masih mau membantu redaksi mereka yang katanya kekurangan editor.

Dulu, aku mungkin memiliki pemikiran yang hampir sama seperti eL, kaku –malah aku lebih kaku dari eL. Sehingga bisa aku pastikan, kalau aku tidak banyak disukai oleh orang lain. Semuanya aku komentari, aku kritik, aku jatuhkan. Semakin banyak orang yang bisa aku jatuhkan, semakin aku merasa senang dan bangga. Dan dari situlah aku berkembang menjadi orang yang lebih keras –pedahal kata orang tuaku, dari kecil aku itu anak yang keras kepala, tidak bisa dikerasin. Bayangkan saja, awal sudah keras, berkembang lebih keras, memang pantas untuk dibuang dari masyarakat.

Semenjak aku keluar dari Scientiarum, aku merasa lebih melunakkan pikiranku, menjadi malas untuk mencari-cari kesalahan orang lain, malas mendebatkan masalah sepele, tidak ada gunanya untuk melakukan itu semuanya, selain untuk kepuasan dan rasa eksistensi diri. Bukan lagi “aku mengkritik, maka aku ada”, karena toh aku akan tetap ada, meski sedang tidak mengkritik.

Berangkat dari pengalamanku ini, aku jadi berpikir dan menduga-duga, jangan-jangan iklim di Scientiarum ini memang membuat orang menjadi kaku dalam pemikirannya, kolot, tidak gaul dan tidak keren lagi. Beberapa anggotanya saat ini terlalu mengagung-agungkan romantisme Scientiarum zaman dulu, romantisme ketika masih ada orang-orang lama seperti Satria, Yodie, Bambang dan lain-lainnya. Kenapa tidak menciptakan romantisme sendiri dengan orang-orang baru yang tersedia? Hati-hati bila terlalu menginginkan masa lalu, akan membuat kekecewaan yang mendalam dan akhirnya akan tamat.

Sekarang kembali pada kawanku, terlepas dari apa yang dia maksud, aku tidak bermaksud untuk menjatuhkan, aku hanya ingin mengatakan bahwa membangun suatu organisasi dari awal itu susah –apalagi organisasi yang memiliki tuntutan professional humanistic skill, macam pers. Di mana hampir semuanya adalah orang baru yang belum memiliki pengalaman sama sekali –orang dari periode lalu, hanya ada aku dan Liany. Untuk sementara memang aku yang menangani paling banyak, dari menjadi Pemimpin Umum, merangkap menjadi Redaktur Pelaksana, Reporter, Editor, Desainer Blog dan mendampingi Reporter baru, Dan aku sadar, aku tidak bisa terus seperti ini, jadi bertambahlah lagi tugasku, aku harus mempersiapkan orang-orang baru ini, tanpa terjadi kesalahan yang fatal dalam prosesnya. Itu semua tanggung jawabku sekarang.

Ini semua sedang dalam proses pembelajaran, tidak langsung semua yang masuk harus sudah bisa sangar –apalagi mengingat bahwa ini masih dalam lingkungan kampus, level-nya jelas di bawah lingkungan kerja yang menuntut keterampilan yang sudah profesional. Di lingkungan semacam ini, aku melihat semuanya –termasuk aku—masih belajar, tidak ada senior-junior, tidak ada guru-murid, semuanya adalah pelajar. Beberapa kali aku mengingatkan eL, bahwa tidak perlu terlalu keras pada anak baru magang. Setiap orang memiliki kapasitas dan tahapan-tahapan yang tidak mungkin bisa sama rata, begitu juga dalam organisasi.

Kalau Scientiarum memiliki idealisme cara penulisannya sendiri, Psychophrenia juga memilikinya, tidak perlu disamakan. Idealisme cara penulisan Psychophrenia adalah belajar menulis sesuai dengan keinginan dan kemampuan anggotanya, selama yang ditulis itu sesuai dengan fakta yang didapatkan.

Popular posts from this blog

Pendidikan Anarkisme; Menanggapi Pendidikan Demokratis Radikal Ben Laksana

Setelah membaca tulisan Ben Laksana mengenai pendidikan demokratis di Indoprogress , saya ingin menanggapinya dengan kedangkalan berpikir saya mengenai pendidikan. Namun sebelum menanggapi tulisan tersebut, saya ingin mengeluarkan uneg-uneg sebagai prolog tulisan ini. Bila memang benar demokrasi merupakan sistem bernegara yang paling ideal, mengapa justru permasalahan negara-negara demokrasi semakin rumit setiap harinya? Apakah kegagalan negara-negara tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintahnya menerapkan demokrasi? atau apakah demokrasi hanyalah sebuah omong kosong penguasa untuk melegitimasi kekuasaannya secara terselubung (dengan adanya pemilu, penguasa akan selalu mengklaim kekuasaannya berasal dari rakyat)? Buat saya, demokrasi memang hanyalah sebuah omong kosong, tidak realistis untuk diperjuangkan, bukan soal utopis atau tidaknya, tapi lebih pada kesesatan logika berpikirnya. Secara etimologi dan terminologi, bukankah demokrasi berarti pemerintahan rakyat? Namun secara...

Kenapa Hidup ....., Jika Mati .....

Jika mati bisa dianggap suatu keberuntungan, kenapa kita susah melihat keberuntungan hidup? Jika kematian saja bisa disyukuri, kenapa dalam kehidupan kita sering mengeluh? Jika kepastian mati harus dilalui berani, kenapa ketidakpastian hidup kita isi ketakutan? Kenapa kita masih hidup sampai sekarang, jika kita tak bisa menikmati proses menuju mati?

Pelampiasan

Ingin kupeluk erat dirimu sebagai pelampiasan, atas rasa rindu yang telah membendung lama. Ingin kucium bibirmu sebagai pelampiasan, atas rasa nafsu yang telah memuncak lama. Ingin kujadikan dirimu sebagai pelampiasan, atas rasa cinta pada sebagian diriku yang ada padamu.