Skip to main content

Aku Adalah Aku Yang Mengaku-aku Saja - 1

Berada dalam ambang kejenuhan, aku tak pernah merasa berarti apa-apa.

"Bangsat!" terucap penuh dendam pada diri sendiri. "Hei! Kamu mengerti apa tentang aku? Tak perlu mengaku-aku sebagai orang yang mengenalku!" bentakku pada bayangan di cermin yang kusam. Satu hal yang kusadari, semua yang terlihat oleh mata hanyalah bayangan saja, sama sekali tidak nyata!

"Yang asli seperti apa?" teringat dengan pertanyaan seorang dosen kepadaku.

Aku tanya pada diriku sendiri, "Apa bedanya palsu dengan asli? Hanya dua kata berbeda dengan makna berbeda dalam kamus saja. Jangan-jangan makna itu tak ada artinya sama sekali, sama sekali!" tanyaku pada diri sendiri.

Kucoba tenangkan diriku, mencoba meredam dendam kesumat. Tak bisa berkata-kata, diam dalam pengap kamar yang menyesak. Kuhirup udara lembap dan kotor. Kucoba membayangkan keindahan, kubayangkan wajahnya yang kucintai. Tapi tidak bertahan lama aku melamunkannya, langsung terhapus oleh bayangan liar yang membuatku langsung meledak-ledak kembali, sambil memaki-maki bayangan di cermin.

Kutengok gambar seseorang (yang katanya itu adalah gambar Yesuah) yang tertempel di dinding kamar sambil berkata, "Aku kagum denganmu dan aku kagum dengan pengajaran kasihmu, tapi aku muak dengan pengikut-pengikut di duniamu! Semuanya munafik!"

Setelah puas memaki-maki, aku kembali merenung -mungkin sedikit meneteskan air mata. Aku tidak tahu harus mengadu pada siapa, hanya duduk terpenjara dalam kamar berukuran 3x2 yang terkunci rapat tak berventilasi, tidak ada cahaya yang masuk, tidak ada udara yang mengalir dari luar, merasa terhimpit oleh tembok-tembok yang seakan-akan mendekat dan menjadi sempit.

Lelah dengan semua emosi tanpa guna, aku terbaring dalam tempat tidur yang terasa keras -padahal itu tempat tidur busa. Kupejamkan mata, terbayang kembali oleh wajah seorang gadis, sedikit mengobati dan membuatku sedikit nyaman, lalu aku tertidur lelap.

Malam tiba, aku terbangun dengan badan yang lemas -sejak kemarin siang, aku belum makan. Kucoba duduk dan menyandarkan tubuhku di tembok, kembali merenung. Bosan merenung, aku segera ke kamar mandi untuk mencuci mukaku yang sudah kusam, terasa segar, kurendam kepalaku dalam bak mandi selama beberapa detik.

Sebanyak tiga kali kurendam kepalaku, lalu kukeringkan dengan handuk. Perutku terasa keroncongan, tapi aku sedang malas untuk makan. Akhirnya, kubuat secangkir kopi hitam, sedikit membuatku nyaman dalam sunyi dan dinginnya malam itu.

Popular posts from this blog

Pendidikan Anarkisme; Menanggapi Pendidikan Demokratis Radikal Ben Laksana

Setelah membaca tulisan Ben Laksana mengenai pendidikan demokratis di Indoprogress , saya ingin menanggapinya dengan kedangkalan berpikir saya mengenai pendidikan. Namun sebelum menanggapi tulisan tersebut, saya ingin mengeluarkan uneg-uneg sebagai prolog tulisan ini. Bila memang benar demokrasi merupakan sistem bernegara yang paling ideal, mengapa justru permasalahan negara-negara demokrasi semakin rumit setiap harinya? Apakah kegagalan negara-negara tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintahnya menerapkan demokrasi? atau apakah demokrasi hanyalah sebuah omong kosong penguasa untuk melegitimasi kekuasaannya secara terselubung (dengan adanya pemilu, penguasa akan selalu mengklaim kekuasaannya berasal dari rakyat)? Buat saya, demokrasi memang hanyalah sebuah omong kosong, tidak realistis untuk diperjuangkan, bukan soal utopis atau tidaknya, tapi lebih pada kesesatan logika berpikirnya. Secara etimologi dan terminologi, bukankah demokrasi berarti pemerintahan rakyat? Namun secara...

Psikologi, Filsafat Kemanusiaan

Beberapa bulan yang lalu, seorang dosen pernah berkata dalam kelas, "Bahasa tubuh manusia itu bisa dibaca, apakah orang itu sedang murung atau senang? Tiap tingkah laku manusia dapat dipelajari kecenderungannya, bila orang tersebut suka diam dan menyendiri, berarti orang tersebut senang berpikir atau larut dalam dunianya sendiri." Dan kebetulan saya yang sedang diam dan menyendiri, merasa bahwa dosen ini sedang menyindir saya. "Nah, orang yang suka larut dalam dunianya tidak cocok sebagai psikolog, ia cocoknya menjadi filsuf, karena seorang psikolog tidak bisa hanya larut dalam dirinya sendiri, ia harus bisa berkomunikasi dengan orang lain, mencoba memahami orang lain. Sehingga bila kalian tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain, lebih baik tidak perlu belajar psikologi, tapi filsafat saja." Lanjutnya. Saya yang saat itu memang sedang tidak  mood   untuk mengikuti kuliah, merasa sedikit tersinggung, saya (merasa) tahu kalau ia memang sedang menyindir sa...

You Are Not Behind — You Are Choosing Differently

  They say you are late. Behind schedule. Outpaced by people who post wins before they understand the cost. But timelines are invented by those afraid of uncertainty. You didn’t fall behind. You stepped off a road that never asked who you wanted to become. Some people move fast because stopping would force them to face themselves. You slowed down because you refused to lie about what success looks like in your own skin. Not everything unfinished is broken. Not every pause is fear. Some delays are decisions made quietly, without witnesses. You are not confused. You are unlearning borrowed ambition. And yes— it looks messy from the outside. Honesty always does before it becomes strength. Let them measure life in milestones. You are measuring it in alignment. And that kind of progress doesn’t trend, doesn’t shout, and doesn’t need permission. It only needs courage.