Skip to main content

Menantang Hidup

"Apakah kamu pernah merasa berada di titik terendah dalam hidupmu?" tanyanya membuyarkan hening.

"Pernah," jawabku singkat enggan bercerita.

Alih-alih penasaran dengan titik terendah yang seperti apa, ia langsung mengajukan pertanyaan filosofis. "Kenapa masih bertahan hidup?" tanyanya tegas.

"Aku takut merasakan proses kematian. Kalau aku bisa bunuh diri tanpa melalui proses sakit, aku akan memilih mati saat itu juga," jawabku.

"Lalu apa yang kamu lakukan saat itu?"

"Hanya bisa belajar pasrah dan ikhlas. Apa ada hal lain yang bisa aku lakukan?" tanyaku balik.

"Kenapa tidak memberontak saja pada hidup?" kembali ia hanya melontarkan pertanyaan.

"Memberontak yang seperti apa?" pertanyaannya kubalas lagi dengan pertanyaan.

Ia enggan menjawab, seolah ia tahu bahwa aku tahu apa yang ia maksud.

"Buatku, pasrah dan ikhlas itu merupakan pemberontakan terhadap hidup," imbuhku.

"Kenapa bisa begitu?"

"Kehidupan akan selalu memberikan kejadian-kejadian yang tujuannya membuat manusia tidak kuat menjalaninya. Kehidupan ingin melihat manusia tidak bisa menerima apapun yang ia berikan, hingga mungkin itulah dasar pemikiran pemberontakanmu tadi."

"Tapi bukankah pasrah dan ikhlas itu artinya kamu menyerah dengan hidup?"

"Justru sebaliknya, karena kalau manusia bisa pasrah dan ikhlas dengan semua yang diberikan kehidupan pada dirinya, manusia akan selalu siap dengan misteri-misteri selanjutnya. Jadi seperti saat kita sudah berhasil melalui satu kejadian, kita akan mudah berkata ke hidup, 'ayo, apalagi yang mau kamu kasih ke aku? Sini kasih lagi!'"

Ia pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa bertanya lagi.

"Aku sering mengibaratkan hidup sama seperti kutukan, maka aku hanya bisa belajar pasrah dan ikhlas menjalani kutukan itu. Dengan begitu, aku mau belajar berjuang tanpa berharap apa-apa dari hidup, dan itu adalah caraku menantang kehidupan untuk mau memberikan pengalaman apapun kepadaku," imbuhku mengakhiri topik.

Popular posts from this blog

Pendidikan Anarkisme; Menanggapi Pendidikan Demokratis Radikal Ben Laksana

Setelah membaca tulisan Ben Laksana mengenai pendidikan demokratis di Indoprogress , saya ingin menanggapinya dengan kedangkalan berpikir saya mengenai pendidikan. Namun sebelum menanggapi tulisan tersebut, saya ingin mengeluarkan uneg-uneg sebagai prolog tulisan ini. Bila memang benar demokrasi merupakan sistem bernegara yang paling ideal, mengapa justru permasalahan negara-negara demokrasi semakin rumit setiap harinya? Apakah kegagalan negara-negara tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintahnya menerapkan demokrasi? atau apakah demokrasi hanyalah sebuah omong kosong penguasa untuk melegitimasi kekuasaannya secara terselubung (dengan adanya pemilu, penguasa akan selalu mengklaim kekuasaannya berasal dari rakyat)? Buat saya, demokrasi memang hanyalah sebuah omong kosong, tidak realistis untuk diperjuangkan, bukan soal utopis atau tidaknya, tapi lebih pada kesesatan logika berpikirnya. Secara etimologi dan terminologi, bukankah demokrasi berarti pemerintahan rakyat? Namun secara...

Manusia Otokritik

"Anda tidak akan bisa bebas memaksa orang lain untuk bisa memahami anda sepenuhnya, karena anda hanya diberikan kebebasan untuk bisa memahami diri anda sendiri dan orang lain, meskipun tidak akan bisa sepenuhnya." Bagiku, semua manusia memiliki kecenderungan untuk anti terhadap kritik. Kenapa? Karena pada dasarnya manusia cenderung mencari yang enak saja. Buat aku pribadi, mengkritik adalah suatu keenakan tersendiri, lebih enak melontarkan kritik daripada menerima kritik. Dan pada akhirnya pula bisa disimpulkan, manusia yang sering mengkritik cenderung anti kritik atau tidak mau menerima kritik. Tapi, bagaimana rasanya jika manusia yang tukang kritik itu, akhirnya juga mengkritik dirinya sendiri? Tetap tidak enak –karena itulah, tulisan ini lama jadinya. Seorang teman pernah mengutip kata-kata Arief Budiman, bahwa kritikan itu konsultasi gratis. Malangnya, kutipan semacam itu selalu aku buat untuk penguatan diri untuk semakin gencar mengkritik sana dan sini. Kenapa aku...

Hujan dan Aku

Kami yang tak pernah saling mengharapkan, bertemu dalam sebuah kenang. Merayapi tiap seluk-beluk bayang perempuan, menyesapi aroma gairah tubuhnya. Menyisakan birahi yang tak tergenapi. Menghujani tiap helai rambut yang terurai. Membasahi bajunya yang sehelai, mencetak lekuk dada dan pinggulnya. "Aku ingin mencumbu dirinya, bersama hujan." Di bawah hujan, aku sendiri. Menengadah menatapi senandung mendung, merajut tiap keping tentangnya. Masih tercium manis tubuhnya, ketika hujan telah menggerimis. Hujanku yang tercantik. Salatiga, 12 November 2013 rintik-rintik di sore hari.