Skip to main content

Romantic Love Poem

 

Ruin the script of fate; I choose you, awake and willing.
Only in your eyes do borders fall and the night learns our names.
My ribs open like windows when your quiet enters the room.
And I promise no temples—only a home where breath is allowed.
Nothing in you needs saving; love is not a siren, it is steady hands.
Take these ordinary hours; let us keep them exact and unruled.
I listen to your pulse like a compass that refuses to lie.
C
ity lights stand still when your laugh breaks the grid.
 

Let us be honest: work and tenderness are the same fire here.
On doubtful nights, I will choose you again, without witness.
Vows without altars—just hands learning the map of each other.
Even the dark trusts us to carry a small, stubborn flame.
 

Promise me questions, not a cage; keep the door open, the table set.
Open roads mean little unless our feet argue them into truth.
Every revolt worth keeping begins as care at the smallest scale.
My heart is no throne; it is a room we clean, together, each day.

Popular posts from this blog

Pendidikan Anarkisme; Menanggapi Pendidikan Demokratis Radikal Ben Laksana

Setelah membaca tulisan Ben Laksana mengenai pendidikan demokratis di Indoprogress , saya ingin menanggapinya dengan kedangkalan berpikir saya mengenai pendidikan. Namun sebelum menanggapi tulisan tersebut, saya ingin mengeluarkan uneg-uneg sebagai prolog tulisan ini. Bila memang benar demokrasi merupakan sistem bernegara yang paling ideal, mengapa justru permasalahan negara-negara demokrasi semakin rumit setiap harinya? Apakah kegagalan negara-negara tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintahnya menerapkan demokrasi? atau apakah demokrasi hanyalah sebuah omong kosong penguasa untuk melegitimasi kekuasaannya secara terselubung (dengan adanya pemilu, penguasa akan selalu mengklaim kekuasaannya berasal dari rakyat)? Buat saya, demokrasi memang hanyalah sebuah omong kosong, tidak realistis untuk diperjuangkan, bukan soal utopis atau tidaknya, tapi lebih pada kesesatan logika berpikirnya. Secara etimologi dan terminologi, bukankah demokrasi berarti pemerintahan rakyat? Namun secara...

Manusia Otokritik

"Anda tidak akan bisa bebas memaksa orang lain untuk bisa memahami anda sepenuhnya, karena anda hanya diberikan kebebasan untuk bisa memahami diri anda sendiri dan orang lain, meskipun tidak akan bisa sepenuhnya." Bagiku, semua manusia memiliki kecenderungan untuk anti terhadap kritik. Kenapa? Karena pada dasarnya manusia cenderung mencari yang enak saja. Buat aku pribadi, mengkritik adalah suatu keenakan tersendiri, lebih enak melontarkan kritik daripada menerima kritik. Dan pada akhirnya pula bisa disimpulkan, manusia yang sering mengkritik cenderung anti kritik atau tidak mau menerima kritik. Tapi, bagaimana rasanya jika manusia yang tukang kritik itu, akhirnya juga mengkritik dirinya sendiri? Tetap tidak enak –karena itulah, tulisan ini lama jadinya. Seorang teman pernah mengutip kata-kata Arief Budiman, bahwa kritikan itu konsultasi gratis. Malangnya, kutipan semacam itu selalu aku buat untuk penguatan diri untuk semakin gencar mengkritik sana dan sini. Kenapa aku...

Hujan dan Aku

Kami yang tak pernah saling mengharapkan, bertemu dalam sebuah kenang. Merayapi tiap seluk-beluk bayang perempuan, menyesapi aroma gairah tubuhnya. Menyisakan birahi yang tak tergenapi. Menghujani tiap helai rambut yang terurai. Membasahi bajunya yang sehelai, mencetak lekuk dada dan pinggulnya. "Aku ingin mencumbu dirinya, bersama hujan." Di bawah hujan, aku sendiri. Menengadah menatapi senandung mendung, merajut tiap keping tentangnya. Masih tercium manis tubuhnya, ketika hujan telah menggerimis. Hujanku yang tercantik. Salatiga, 12 November 2013 rintik-rintik di sore hari.