Skip to main content

Mencoba Tidak Membela Siapa-Siapa


Seperti yang kita ketahui akhir-akhir ini Malaysia telah banyak "mengklaim" kebudayaan Indonesia adalah miliknya dan para pemuda Indonesia banyak yang tidak terima dengan "pengklaiman" ini, maka banyak kalangan yang mengecam aksi yang dilakukan Malaysia ini bahkan ada yang menyerukan perang. Mungkin bagi kalangan yang "nasionalis" perang adalah jalan satu-satunya karena sudah tiada maaf lagi bagi sang "Malingsia"(sebutan Malaysia di Indonesia yang sedang populer), namun apabila para "nasionalis" itu diperintahkan perang, apakah mereka akan pergi melaksanakannya? Aku meragukannya.

Sekarang ada beberapa pertanyaan yang ada dalam pikiran saya adalah kenapa sejak jaman bung Karno hingga presiden SBY, hubungan Indonesia dengan Malaysia mengalami pasang surut? Ketika bung Karno menjabat sebagai presiden beliau sempat ingin mendeklarasikan perang dengan Malaysia, lalu ketika jaman Soeharto hubungan Indonesia relatif stabil entah kenapa? Apakah karena Soekarno lebih condong ke barat daripada Soekarno yang lebih condong ke Uni Soviet, sehingga ketika Soeharto menjadi presiden dia juga menolak mentah-mentah bantuan IMF dan menyindir negara Malaysia yang mengandalkan bantuan barat?



Karena itu sempat Soekarno mengabarkan ide “berdikari”(berdiri di kaki sendiri) maksudnya adalah negara bisa berdiri sendiri tanpa hutang, namun ternyata tetap saja Soekarno berhutang pada Uni Soviet untuk membangun Gelora Bung Karno, beda dengan Soeharto, Soeharto yang lebih condong pada barat menyebabkan beliau berhutang pada IMF dan “sebangsanya” mungkin karena itulah ketika Soeharto menjadi presiden, hubungan Indonesia dengan Malaysia membaik karena sama-sama bergantung dengan negara-negara barat?

Lalu banyak orang Indonesia "mengklaim" Malaysia adalah negara maling, tapi apakah Indonesia juga bukan "negara maling"? Coba kita lihat berapa banyak barang-barang yang dibajak/dicopy? Berapa banyak koruptor yang berkeliaran di Indonesia? Begitu kok masih bisa "mengklaim" Malaysia adalah negara maling? Ini namanya sudah main saling mengklaim. Sekarang daripada berbuat yang memalukan dengan "mengklaim" Malaysia adalah negara maling padahal Indonesia sendiri juga negara maling, maka saya menyarankan untuk tidak ikut-ikutan menyebut Malaysia dengan "Malingsia"(Maling Asia) karena untuk apa semua ejekan itu? Apakah akan menyelesaikan masalah yang ada?

Apakah perang adalah satu-satu "cara"? Setidaknya itu adalah seruan para "nasionalis" yang hanya menggunakan otot untuk menyelesaikan masalah, bukannya selesai namun menambah masalah yang ada? Bila perang maka terjadilah suatu pengorbanan nyawa-nyawa dan tanpa disadari bagaimana nasib orang-orang yang ditinggal pergi berperang? Contoh: seorang ayah meninggalkan anak dan istri untuk pergi berperang, kalau saja ayah itu selamat mungkin masih bisa melanjutkan kehidupannya dengan keluarganya namun bila tidak selamat atau menjadi cacat yang menyebabkan dia tidak bisa menafkahi keluarganya apakah negara mau menanggung biaya hidup bagi keluarga-keluarga yang telah berjuang demi negaranya? 

Lalu bangsa Indonesia harus berbuat bagaimana? Hidup itu ada sebab-akibat, Jadi bila ingin menyelesaikan masalah ini saya menyarankan agar bangsa ini jangan asal main perang saja,tapi cobalah cari akar permasalahannya dulu sejak jaman bung Karno, karena banyak juga orang yang kelihatannya ingin mengkait-kaitkan masalah ini dengan "dendam lama" yang belum terlaksana? Disini saya melihat bahwa sebenarnya bangsa Indonesia sendiri bingung dalam menentukan sikap, disamping ingin “menghancurkan” Malaysia namun juga tetap menginginkan bantuan dari Malaysia sendiri, contoh: banyak yang menyuarakan permusuhan dengan Malaysia tapi juga masih banyak TKI yang ingin bekerja disana? Inilah yang menjadi sebuah dilema ketika mengucapkan peperangan namun membutuhkan pekerjaan yang katanya bayarannya lebih tinggi daripada di negara sendiri.

Di sini terlihat bahwa Indonesia tengah bingung dalam mencari solusi yang tepat, sehingga nampak jelas bahwa pemerintah juga tidak bisa bertindak apa-apa, mereka takut untuk mengambil sebuah keputusan karena di satu sisi mereka harus bisa memperjuangkan “kemederkaan” rakyat, namun di satu sisi mereka juga masih membutuhkan Malaysia untuk kepentingan investasi negara. Atau mungkin inilah yang menjadi permasalahannya yaitu pada faktor ekonomi Indonesia yang sedang membutuhkan bantuan negara-negara lainnya seperti Malaysia untuk pengiriman para TKI dalam jumlah besar, sehingga negara pun mendapatkan devisa yang besar pula dari Malaysia.


Semua ini juga bukan sepenuhnya salah Malaysia karena kita bangsa Indonesia juga memiliki peran yang sama besarnya, kenapa dulu kita selalu tidak peduli dengan harta sendiri? Kenapa baru marah ketika harta itu telah di ambil? Karena itu juga coba dipikirkan sebelum mulai melancarkan peperangan baik di dunia maya maupun di dunia nyata, karena dampaknya bukan hanya pada yang ikut perang tapi seluruh negara yang berperang.

Popular posts from this blog

Pendidikan Anarkisme; Menanggapi Pendidikan Demokratis Radikal Ben Laksana

Setelah membaca tulisan Ben Laksana mengenai pendidikan demokratis di Indoprogress , saya ingin menanggapinya dengan kedangkalan berpikir saya mengenai pendidikan. Namun sebelum menanggapi tulisan tersebut, saya ingin mengeluarkan uneg-uneg sebagai prolog tulisan ini. Bila memang benar demokrasi merupakan sistem bernegara yang paling ideal, mengapa justru permasalahan negara-negara demokrasi semakin rumit setiap harinya? Apakah kegagalan negara-negara tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintahnya menerapkan demokrasi? atau apakah demokrasi hanyalah sebuah omong kosong penguasa untuk melegitimasi kekuasaannya secara terselubung (dengan adanya pemilu, penguasa akan selalu mengklaim kekuasaannya berasal dari rakyat)? Buat saya, demokrasi memang hanyalah sebuah omong kosong, tidak realistis untuk diperjuangkan, bukan soal utopis atau tidaknya, tapi lebih pada kesesatan logika berpikirnya. Secara etimologi dan terminologi, bukankah demokrasi berarti pemerintahan rakyat? Namun secara...

Psikologi, Filsafat Kemanusiaan

Beberapa bulan yang lalu, seorang dosen pernah berkata dalam kelas, "Bahasa tubuh manusia itu bisa dibaca, apakah orang itu sedang murung atau senang? Tiap tingkah laku manusia dapat dipelajari kecenderungannya, bila orang tersebut suka diam dan menyendiri, berarti orang tersebut senang berpikir atau larut dalam dunianya sendiri." Dan kebetulan saya yang sedang diam dan menyendiri, merasa bahwa dosen ini sedang menyindir saya. "Nah, orang yang suka larut dalam dunianya tidak cocok sebagai psikolog, ia cocoknya menjadi filsuf, karena seorang psikolog tidak bisa hanya larut dalam dirinya sendiri, ia harus bisa berkomunikasi dengan orang lain, mencoba memahami orang lain. Sehingga bila kalian tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain, lebih baik tidak perlu belajar psikologi, tapi filsafat saja." Lanjutnya. Saya yang saat itu memang sedang tidak  mood   untuk mengikuti kuliah, merasa sedikit tersinggung, saya (merasa) tahu kalau ia memang sedang menyindir sa...

You Are Not Behind — You Are Choosing Differently

  They say you are late. Behind schedule. Outpaced by people who post wins before they understand the cost. But timelines are invented by those afraid of uncertainty. You didn’t fall behind. You stepped off a road that never asked who you wanted to become. Some people move fast because stopping would force them to face themselves. You slowed down because you refused to lie about what success looks like in your own skin. Not everything unfinished is broken. Not every pause is fear. Some delays are decisions made quietly, without witnesses. You are not confused. You are unlearning borrowed ambition. And yes— it looks messy from the outside. Honesty always does before it becomes strength. Let them measure life in milestones. You are measuring it in alignment. And that kind of progress doesn’t trend, doesn’t shout, and doesn’t need permission. It only needs courage.