Skip to main content

Perihal Hilang

Kamu menghilang, akupun ingin begitu.
Tanpa tanda, tanpa tegur, tanpa kata.
Aku kira kita bisa, ternyata tidak begitu.
Saling goda, habiskan anggur, lalu bercinta.

Sekarang kamu telah tahu sikapku yang kentara,
kubuka lebar tanganku yang berisi arteri.
Kutawarkan itu padamu hanya dengan aksara,
karena mulut, mata dan telingaku sudah kuberi.

Kupastikan kamu tahu,
bahwa di sini aku merindukan suaramu, senyummu, dan tatapanmu.
Tapi kupastikan kamu takkan tahu,
bagaimana rasanya tersiksa menjadi manusia merdeka tanpamu.

Lihatlah mata yang telah kuberikan malam itu,
kupastikan takkan ada kebohongan di situ.
Dan jika bukan dirimu menjadi pendampingku,
maka selain dirimu hanya menjadi pelarianku.

Popular posts from this blog

Pendidikan Anarkisme; Menanggapi Pendidikan Demokratis Radikal Ben Laksana

Setelah membaca tulisan Ben Laksana mengenai pendidikan demokratis di Indoprogress , saya ingin menanggapinya dengan kedangkalan berpikir saya mengenai pendidikan. Namun sebelum menanggapi tulisan tersebut, saya ingin mengeluarkan uneg-uneg sebagai prolog tulisan ini. Bila memang benar demokrasi merupakan sistem bernegara yang paling ideal, mengapa justru permasalahan negara-negara demokrasi semakin rumit setiap harinya? Apakah kegagalan negara-negara tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintahnya menerapkan demokrasi? atau apakah demokrasi hanyalah sebuah omong kosong penguasa untuk melegitimasi kekuasaannya secara terselubung (dengan adanya pemilu, penguasa akan selalu mengklaim kekuasaannya berasal dari rakyat)? Buat saya, demokrasi memang hanyalah sebuah omong kosong, tidak realistis untuk diperjuangkan, bukan soal utopis atau tidaknya, tapi lebih pada kesesatan logika berpikirnya. Secara etimologi dan terminologi, bukankah demokrasi berarti pemerintahan rakyat? Namun secara...

You Are Not Behind — You Are Choosing Differently

  They say you are late. Behind schedule. Outpaced by people who post wins before they understand the cost. But timelines are invented by those afraid of uncertainty. You didn’t fall behind. You stepped off a road that never asked who you wanted to become. Some people move fast because stopping would force them to face themselves. You slowed down because you refused to lie about what success looks like in your own skin. Not everything unfinished is broken. Not every pause is fear. Some delays are decisions made quietly, without witnesses. You are not confused. You are unlearning borrowed ambition. And yes— it looks messy from the outside. Honesty always does before it becomes strength. Let them measure life in milestones. You are measuring it in alignment. And that kind of progress doesn’t trend, doesn’t shout, and doesn’t need permission. It only needs courage.

When Silence Teaches More Than Noise

Everyone talks about success. Few talk about the cost. The nights you outgrow your old dreams. The mornings that feel heavier than yesterday. The quiet moments where no one is watching— except you. I used to chase noise. Deadlines. Applause. Validation. I thought speed meant progress and movement meant direction. I was wrong. Growth does not announce itself. It whispers. It waits until you are tired enough to finally listen. Some lessons arrive as losses. Some answers come dressed as delays. And some doors stay closed not to punish you, but to protect who you are becoming. There is strength in slowing down. Power in choosing clarity over chaos. Freedom in admitting you don’t need to be everywhere to be enough. You are allowed to change your mind. You are allowed to redefine success. You are allowed to become someone your past self would not recognize. Time is not your enemy. It is your editor— cutting what no longer fits, refining what truly matters. ...