Skip to main content

Perihal Cara

Kita memang memiliki cara masing-masing
Entah itu mencintai ataupun membenci
Soal memandang kebersamaan dan kesendirian
Enyahkan ketakutan dan bangkitkan keberanian
Ini memang proses kita saling menguatkan
Mengembangkan potensi kita dalam mencintai
Bukan berarti kita tak pasti bersama lagi
Akan tetap kujalani ini dengan doa untuk kita
Nantikan saat di mana Semesta tunjukkan cara
Gapai impian sendiri tuk kembali bersama
Apapun usaha kita berdua pasti 'kan berhasil
Nubuatnya 'tuk kita bersatu sedang tergenapi

Popular posts from this blog

Pendidikan Anarkisme; Menanggapi Pendidikan Demokratis Radikal Ben Laksana

Setelah membaca tulisan Ben Laksana mengenai pendidikan demokratis di Indoprogress , saya ingin menanggapinya dengan kedangkalan berpikir saya mengenai pendidikan. Namun sebelum menanggapi tulisan tersebut, saya ingin mengeluarkan uneg-uneg sebagai prolog tulisan ini. Bila memang benar demokrasi merupakan sistem bernegara yang paling ideal, mengapa justru permasalahan negara-negara demokrasi semakin rumit setiap harinya? Apakah kegagalan negara-negara tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintahnya menerapkan demokrasi? atau apakah demokrasi hanyalah sebuah omong kosong penguasa untuk melegitimasi kekuasaannya secara terselubung (dengan adanya pemilu, penguasa akan selalu mengklaim kekuasaannya berasal dari rakyat)? Buat saya, demokrasi memang hanyalah sebuah omong kosong, tidak realistis untuk diperjuangkan, bukan soal utopis atau tidaknya, tapi lebih pada kesesatan logika berpikirnya. Secara etimologi dan terminologi, bukankah demokrasi berarti pemerintahan rakyat? Namun secara...

Pelampiasan

Ingin kupeluk erat dirimu sebagai pelampiasan, atas rasa rindu yang telah membendung lama. Ingin kucium bibirmu sebagai pelampiasan, atas rasa nafsu yang telah memuncak lama. Ingin kujadikan dirimu sebagai pelampiasan, atas rasa cinta pada sebagian diriku yang ada padamu.

Melepas Bayangan

Kemarin aku baru sempat membaca lagi  note Satria yang berjudul, “ Balada Anak Pertama ”. Di note itu, ia bercerita singkat mengenai pengalamannya menjadi anak pertama. Gak tahu kenapa, aku juga ingin bercerita singkat –tapi mungkin sedikit lebih panjang dari cerita Satria—tentang pengalamanku menjadi anak kedua. Dan sebelumnya, jujur, inti ceritaku ini sudah aku buat –kasarannya—beberapa hari sebelum Satria mem- publish baladanya. ***** Siang itu, aku sedang mengedit draf buku milik Semuel Lusi di kafe. Dengan seorang teman (Erwin), sebuah bendel kertas, sebatang pena, dan segelas es chococinno, menemaniku duduk mengedit sambil bercerita tentang cinta Agape-Eros dan ke-zahir-an perempuan pujaan masing-masing. Tiba-tiba, beberapa teman biasa nongkrong datang. Viona, Deva, Alwin, dan Yodie. Kedatangan mereka membuat cerita kami –aku dan Erwin—berhenti, kebetulan juga si Erwin harus pergi menyelesaikan urusan. Awalnya, kedatangan mereka tidak begitu aku hiraukan. A...