Skip to main content

Perihal Waktu dan Usia

Mungkin kita ingin waktu berhenti
Ogah merasa kalah dengan takdir
Namun sekeras apapun kita ingin
Itu semua hanya kesia-siaan
Cinta kita pada kehidupan
Adalah sementara

Yang abadi hanyalah kenangan kita
Orang bilang hari ini adalah hadiah
Hadiah yang patut dirayakan dalam syukur
Apapun yang telah terjadi
Naik turunnya fase kehidupan
Adalah lingkaran kepastian yang misterius

Pada akhirnya kita bisa sadar
Usia tidak pernah bertambah atau berkurang
Tapi usia akan tetap satu untuk selamanya
Raga bisa menua, namun kenangan tidak
Itu alasan agar hidup kita bermakna

Waktu bukanlah musuh kita
Ijinkan Ia tetap berjalan bersamamu
Rangkul Ia sebagai pengingatmu
Yang terlukai akan selalu tersembuhkan
Orbit kehidupan dan kematian sudah teratur
Kebahagiaan dan kesusahan silih berganti
Usia kita hanya satu
Sia-sia bila kita takut untuk menghidupinya 
Usia kita hanya satu
Maka, menjadi manusia berguna hanya sekali
Olah usiamu sebaik mungkin untuk dikenang

Popular posts from this blog

Pendidikan Anarkisme; Menanggapi Pendidikan Demokratis Radikal Ben Laksana

Setelah membaca tulisan Ben Laksana mengenai pendidikan demokratis di Indoprogress , saya ingin menanggapinya dengan kedangkalan berpikir saya mengenai pendidikan. Namun sebelum menanggapi tulisan tersebut, saya ingin mengeluarkan uneg-uneg sebagai prolog tulisan ini. Bila memang benar demokrasi merupakan sistem bernegara yang paling ideal, mengapa justru permasalahan negara-negara demokrasi semakin rumit setiap harinya? Apakah kegagalan negara-negara tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintahnya menerapkan demokrasi? atau apakah demokrasi hanyalah sebuah omong kosong penguasa untuk melegitimasi kekuasaannya secara terselubung (dengan adanya pemilu, penguasa akan selalu mengklaim kekuasaannya berasal dari rakyat)? Buat saya, demokrasi memang hanyalah sebuah omong kosong, tidak realistis untuk diperjuangkan, bukan soal utopis atau tidaknya, tapi lebih pada kesesatan logika berpikirnya. Secara etimologi dan terminologi, bukankah demokrasi berarti pemerintahan rakyat? Namun secara...

Pelampiasan

Ingin kupeluk erat dirimu sebagai pelampiasan, atas rasa rindu yang telah membendung lama. Ingin kucium bibirmu sebagai pelampiasan, atas rasa nafsu yang telah memuncak lama. Ingin kujadikan dirimu sebagai pelampiasan, atas rasa cinta pada sebagian diriku yang ada padamu.

Melepas Bayangan

Kemarin aku baru sempat membaca lagi  note Satria yang berjudul, “ Balada Anak Pertama ”. Di note itu, ia bercerita singkat mengenai pengalamannya menjadi anak pertama. Gak tahu kenapa, aku juga ingin bercerita singkat –tapi mungkin sedikit lebih panjang dari cerita Satria—tentang pengalamanku menjadi anak kedua. Dan sebelumnya, jujur, inti ceritaku ini sudah aku buat –kasarannya—beberapa hari sebelum Satria mem- publish baladanya. ***** Siang itu, aku sedang mengedit draf buku milik Semuel Lusi di kafe. Dengan seorang teman (Erwin), sebuah bendel kertas, sebatang pena, dan segelas es chococinno, menemaniku duduk mengedit sambil bercerita tentang cinta Agape-Eros dan ke-zahir-an perempuan pujaan masing-masing. Tiba-tiba, beberapa teman biasa nongkrong datang. Viona, Deva, Alwin, dan Yodie. Kedatangan mereka membuat cerita kami –aku dan Erwin—berhenti, kebetulan juga si Erwin harus pergi menyelesaikan urusan. Awalnya, kedatangan mereka tidak begitu aku hiraukan. A...